Jumat, 11 Oktober 2013

melihat kemudian melirik


tentang rasa rindu yang tak tahu kemana hendak tertuju
tentang dada yang bergemuruh
bukan karna ombak atau angin
juga bukan karna rambut dan kuku

kemudian kata-kata pamungkas akan hadir
seperti kata mati mutlak mengibas
tak ada yang tak ingin
rindu jelas tertuju pada siapa
tak ada yang tak butuh
kawan hidup sampai mati

hanya takaran kosong dan terisi berbeda
hanya yang kuasa punya kenapanya

membayangkan dengan si rambut panjang
kulit sawo matang
kaki tinggi
kening lebar
rambut keriting
si pendiam
penentang
dan pada siapapun

kebebasan bersyair dan bercerita
berlayar dan terus berlayar

kharap-harap cemas
hanya karna namanya bertanda bulat hijau
melihat kemudian melirik
berharap muncul balon merah atasnamanya
haaaah...
kenapa kamu diam saja

kemudian pura-pura lupa
tapi tetap menanti
prasangka berderet hadir
atau sedang berbincang dengan wanita
atau sedang menunggu wanita berbincang padanya
aku kedia
dia ke aku
atau aku ke dia
dia ke wanitanya
haaa...
lucu
sebenernya tidak lucu

bukan lagi anak muda
tapi indahnya takdir
karuniakan rasa ini sampai saat ini

tersenyum,,,
hei hei...
yaaa....
sebenarnya bukan saatnya lagi
tapi
nikatnya
masih dirasakan saat ini..
itu karunia

kesulitan bukan kesakitan bagiku
adalah ujian untuk jadi indah
seindah indahnya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar